LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba
Wednesday, 11 July 2018
LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba

Danau Toba telah ditetapkan sebagai destinasi wisata berdasarkan Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2014. Namun demikian masih terdapat berbagai permasalahan yang harus diperbaiki, salah satunya adalah kualitas lingkungan Danau Toba yang masih jauh dari kondisi baik. Kondisi kualitas air Danau Toba telah mengalami penurunan dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya. Mengingat begitu pentingnya perbaikan kualitas air Danau Toba, maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Limnologi, akan mengulas lebih lanjut tentang kajian daya dukung ekosistem Danau Toba melalui pendekatan yang lebih sistemik dalam Media Briefing “LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba Untuk Perbaikan Kualitas Air”, pada 10 Juli 2018 di Media Center LIPI Pusat Jakarta. 

Jakarta - Berbagai penelitian telah dilakukan dalam rangka membantu perbaikan kualitas air Danau Toba. Salah satunya adalah perhitungan daya dukung lingkungan Danau Toba yang memberikan rekomendasi batasan jumlah produksi perikanan sehingga diharapkan status kualitas air Danau Toba pada kondisi paling baik. Namun demikian kajian-kajian daya dukung yang telah dilakukan belum menggambarkan kondisi alamiah Danau Toba.

Puslit Limnologi LIPI telah melakukan kajian daya dukung ekosistem Danau Toba melalui pendekatan yang lebih sistemik dengan mensimulasikan interaksi komponen-komponen penyusun ekosistem Danau Toba, baik fisik, biologi, kimia hingga meteorologinya. “Pendekatan yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan mengintegrasikan pergerakan air (hidrodinamika) Danau Toba dengan seluruh material yang terkandung di dalamnya, sehingga hasil yang didapatkan lebih mendekati kondisi alaminya,” ujar Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Fauzan Ali.

Menurut Fauzan, kajian ini mensimulasikan hidrodinamika perairan Danau Toba beserta ekosistem pendukungnya dengan menggunakan system komputasi numerik. “Dengan simulasi ini pergerakan arus, pergerakan material (termasuk material pencemar), serta pertumbuhan fitoplankton di Danau Toba dapat diketahui. Sehingga, kondisi ekosistem danau dapat diproyeksikan kedepannya,” jelas Fauzan.

Oleh karena itu, Fauzan menjelaskan bahwa dalam kajian ini, Puslit Limnologi LIPI telah mensimulasikan bagaimana keberadaan keramba jaring apung terhadap kondisi kualitas air Danau Toba. Didapatkan bahwa untuk mendapatkan kualitas air Danau Toba pada kondisi baik (oligotrofik) sesuai dengan rekomendasi mendukung rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Pemerintah provinsi Sumatera Utara, maka jumlah keseluruhan keramba jaring apung di Danau Toba adalah 543 petak dengan asumsi produksi ikan 1430 ton pertahun. Perhitungan ini jauh di bawah rekomendasi pemerintah dan kajian-kajian sebelumnya yang menetapkan total produksi hingga 10.000 ton pertahun.

Fauzan berharap bahwa kajian ini diharapkan dapat mendukung pemerintah pusat maupun daerah dalam usaha perbaikan kualitas air Danau Toba dalam mendukung iklim investasi pariwisata. “Simulasi numerik ini diharapkan juga dapat diaplikasikan dalam penyusunan konsep pengelolaan ekosistem pada danau-danau lainnya di Indonesia,” pungkas Fauzan.

(*)