Pemimpin Redaksi dan Pemilik Media dalam The Post
Sunday, 11 March 2018
Pemimpin Redaksi dan Pemilik Media dalam The Post

Nama Editor Eksekutif The Washington Post tahun 1968-1991 Ben Bradlee dikenang sampai sekarang. Paling tidak di kantor redaksi koran terkemuka, yang terbit di ibukota Amerika Serikat itu, nama Bradlee diabadikan di salah satu ruang konferensi utama.

Tepat di seberang ruang terbuka berkaca itu, terpampang daftar panjang prestasi Pulitzer yang diraih jurnalis WaPo, singkatan untuk The Washington Post. Quote dari Bradlee tertulis jelas di atas catatan membanggakan tersebut, menarik perhatian semua pengunjung ruang redaksi. Begini tulisannya:

"The truth, no matter how bad, is never as dangerous as a lie in the long run." Ben Bradlee
Kebenaran, tak peduli seberapa buruknya, tak pernah seberbahaya seperti sebuah kebohongan berkepanjangan.

 

Sumber foto: Twitter Foreign Press Center

Sementara di ruang konferensi terpampang foto dan profil Ben Bradlee.

Bagian kalimatnya tertulis: Bradlee dikenal dengan penerbitan Pentagon Papers, rahasia sejarah Perang Vietnam, dan memimpin The Post saat mengekspos skandal Watergate, yang menghasilkan pengunduran diri Presiden Richard M. Nixon. Pesona dan talenta kepemimpinan membantunya merekrut dan mengispirasi staf berbakat, dan pada akhirnya menjadikan Bradlee sebagai editor surat kabar paling dikenal di eranya. 

Pentagon Papers yang terdiri dari ribuan halaman kajian tentang keterlibatan AS dalam Perang Vietnam, menjadi latar film "The Post". Namun tokoh lain berperan di balik keberanian Bradlee menerbitkan dokumen sangat rahasia tersebut. Bradlee didukung oleh atasannya, pemilik The Washington Post kala itu, Katharine Graham. 

Keputusan Katharine bukan hal yang mudah. Tanpa pengalaman bekerja, apalagi memimpin. Diragukan kinerjanya oleh para direktur, investor, sampai staf legalnya. Dibayangi kesuksesan ayah dan suami yang telah mewariskan WaPo. Didesak oleh pejabat terkait Pentagon Papers, yang notabene sahabatnya. Diiringi persaingan dari New York Times, serta perhitungan bisnis yang tidak terlalu menguntungkan.

Dan yang paling banyak diceritakan, Katharine sebagai bos didesak terus menerus oleh pemimpin redaksinya, sang legenda Ben Bradlee, untuk bertindak independen. Begitu juga sebaliknya.

Debat demi debat. Argumentasi demi argumentasi. Perbedaan pendapat demi perbedaan pendapat, dialami Katharine dan Ben untuk meyakinkan posisi masing-masing.

Resiko jika tidak menerbitkan Pentagon Papers pada tahun 1971, kebohongan para presiden akan berlanjut, kerugian akibat Perang Vietnam bisa bertambah.

Jika menerbitkannya, para pelakunya bisa diseret ke pengadilan karena melakukan tindakan ilegal, penghentian investasi, serta keberlangsungan perusahaan dan reputasi yang dipertahankan Katharine, semua terancam.

Dihadapkan antara kelangsungan bisnis dan kualitas produk jurnalistik, Katharine secara sederhana kembali kepada misi perusahaan, yang sejalan dengan prinsip kebebasan pers.

"Kita punya tanggung jawab terhadap perusahaan, karyawan, dan kesehatan koran ini dalam jangka panjang.
Tetapi misi koran ini juga tentang pemberitaan dan reportase yang luar biasa. Surat kabar ini juga didekasikan untuk kesejahteraan bangsa dan negara, serta terhadap kebebasan pers," kata Katharine mengakhiri perdebatan sebelum penerbitan Pentagon Papers, sambil menekankan secara tegas bahwa The Washington Post adalah miliknya. Bukan lagi punya ayah atau suaminya.

Hasilnya, Ben diposisikan sebagai editor terhormat, bahkan sampai sekarang, seperti tergambar dalam markas The Washington Post di atas.

Begitu pula Katharine menjadi penerbit perempuan pertama dari surat kabar Amerika terkemuka, perempuan CEO pertama yang masuk daftar Fortune 500 CEO, serta sederet prestasi lainnya.

Belum lagi dampak eksternal, termasuk terungkapnya masalah-masalah nasional lainnya, karena Katherine mampu membulatkan keputusan untuk melawan pendapat para pria di jajaran manajemennya. 

Dengan penggambaran detil meyakinkan dan dialog-dialog inspiratif, "The Post" sebenarnya tak hanya menggambarkan dilema profesionalitas wartawan. Tetapi juga tentang kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, hubungan atasan-bawahan, peristiwa politik, dan sejarah. 

Ceritanya pun relevan dengan situasi AS terkini, terkait sebutan fake news dari Presiden Donald Trump bagi media massa, dan perlawanan terhadap pelecehan seksual lewat gerakan Me Too.

Kalau pun elemen-elemen itu kurang menarik perhatian, menikmati akting Meryl Streep dan Tom Hanks, dengan arahan sutradara Steven Spielberg, sudah mampu menjadi hiburan berkualitas untuk penggemar berat genre drama.  

(MAR)