Perkuat Indonesia Toleran
Wednesday, 14 February 2018
Perkuat Indonesia Toleran

Jakarta - Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid secara resmi membuka acara puncak Festival Toleransi Rakyat (Peace Festival 2018) di La Piazza, Gandaria City, Sabtu 10 Februari 2018. 

Hadir dalam acara ini antara lain Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Vennetia Danes, UN Women Repsentative Indonesia for ASEAN Sabine Machl, dan mantan Ibu Negara RI keempat Sinta Nuriyah.

Selain itu, acara ini dihadiri oleh ibu-ibu binaan Wahid Foundation dan para kepala desa dari beberapa daerah di Indonesia. Mereka adalah kepala desa yang mempunyai peran besar dalam menyebarkan toleransi dan perdamaian di Indonesia, maupun menguatkan peran perempuan di daerahnya.

Acara puncak ini juga dihadiri oleh lebih dari dua ratus orang, serta dihibur oleh pertunjukan Barongsai dari Bogor.

Dalam sambutannya, Yenny menyebut keberhailan kerja-kerja Wahid Foundation salah satunya berkat dukungan penuh dari kepala desa. “Mereka adalah kepala desa yang luar biasa,” puji Yenny.

Yenny mengatakan, acara ini adalah kegiatan tiga hari yang membahas hal-hal yang substansial, juga merayakan perdamaian dan toleransi yang menyatukan seluruh masyarakat.

Orang kota, sambung Yenny, memiliki komitmen yang sama dalam membangun Indonesia. Dan program Desa Damai yang digagas Wahid Foundation telah dilaksanakan di 30 desa. Dari 30 desa tersebut, ada sembilan desa yang telah mendekralasikan diri sebagai Desa Damai. 

“Kenapa baru sembilan? Karena yang lain masih proses. Dan ada beberapa indikator yang harus dilalui untuk menjadi Desa Damai. Kita ingin desa yang merumuskan sendiri apa yang menjadi kebutuhan mereka. Ada 10 nilai desa yang mereka rumuskan sendiri, bangun sendiri dan mereka tuliskan pakai Bahasa Jawa halus,” papar Yenny.

Putri Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menegaskan, perdamaian menjadi komitmen bersama desa-desa di seluruh Nusantara. Dan dunia akan melihat dan menjadikannya inspirasi. 

Menurut Yenny, Indonesia dikenal sebagai negara yang mampu mengelola kebhinekaan, yang mampu mengelola perbedaan di masyarakat. “Tidak semua negara bisa melakukan hal ini,” ia menegaskan.

Dalam kesempatan itu, Yenny juga menyatakan bahwa kehadiran Ibu Sinta Nuriyah bukan karena penyelenggara acara ini adalah anaknya, namun karena kepedulian beliau dalam pemberdayaan perempuan. 

Vennetia mengapresiasi terselenggaranya gelaran ini. Menurutnya, Wahid Foundation telah melakukan kerja luar biasa dengan mendorong perempuan menjadi juru damai. “Perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berkontribusi bagi negeri ini,” ujarnya.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Sabine Machal. Wahid Foundation di mata Sabine, telah melakukan kerja-kerja luar biasa dalam pemberdayaan perempuan sehingga mereka menjadi agen-agen perdamaian.

Menteri Eko Putro juga mendukung penuh program-program Wahid Foundation. Ia memandang Wahid Foundation telah melakukan kerja-kerja besar dalam membangun kampung damai.

“Kegiatan Wahid Foundation yang mendorong peran setiap elemen desa untuk membangun wilayahnya merupakan langkah yang sangat tepat,” jelas Eko.

Di lain pihak, kata dia, pemerintah saat ini fokus melakukan pemerataan pembangunan, termasuk pembangunan desa. Ia juga menyebut para kepala desa yang hadir di acara ini sebagai pahlawan di desa.

Eko berjanji akan mengalokasikan bantuan khusus untuk desa-desa dampingan Wahid Foundation, namun dengan syarat ‘Desa Damai’ harus berhasil. “Nanti kalau sudah berhasil, laporkan ke saya. Saya bantu. Ini janji saya,” tegasnya. 

Pada acara puncak ini dilakukan pembacaan deklarasi ‘Perempuan Berdaya, Komunitas Damai’ oleh 12 orang perwakilan ibu-ibu dampingan Wahid Foundation, serta peresmian Kampung Damai. 

Peresmian Kampung Damai ditandai dengan pemukulan kentongan yang dipimpin oleh Menteri Eko Putro. Selain itu, juga ada pemberian award (penghargaan) kepada perempuan kelompok usaha dan Bumdes.

(*)