KPPPA Gelar Kampanye Anak Indonesia Hebat Tanpa Rokok
Monday, 20 November 2017
KPPPA Gelar Kampanye Anak Indonesia Hebat Tanpa Rokok

JAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia dan Hari Kesehatan Nasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) hadir untuk melindungi anak-anak dan memastikan mereka tidak terpapar bahaya rokok sebagai bagian dalam pemenuhan hak anak atas kesehatan dan lingkungan tanpa asap rokok dengan menginisiasi kampanye “Anak Indonesia Hebat Tanpa Rokok”. KPPPA juga melibatkan Kementerian/Lembaga Terkait serta NGO agar kampanye ini menjadi gerakan bersama dan berkesinambungan.

Kampanye dilaksanakan pada tanggal 19 November di area Car Free Gedung Kementerian ESDM. Acara diawali dengan jalan sehat seluruh peserta, kemudian dimeriahkan juga oleh penampilan berbagai komunitas seni dan olahraga serta testimoni dari anak – anak berprestasi tanpa rokok dari berbagai bidang. Dalam acara ini, berbagai Kementerian dan Lembaga diantaranya yaitu Kementerian Kesehatan, Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Komnas Pengendalian Tembakau juga ikut berpartisipasi dengan menyediaakan booth cek kesehatan dan mobil penyuluhan tentang Narkoba.

Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPA, Lenny N Rosalin menegaskan, rokok merupakan bahaya laten bagi anak, yang dapat merenggut kesehatan anak di masa depan. Dampak konsumsi rokok baru akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, saat anak-anak mencapai usia produktif. Jika permasalahan ini terus dibiarkan, Indonesia akan terus mendapatkan berbagai ancaman bagi masa depan bangsanya yaitu ancaman kesehatan dan juga ancaman untuk tidak dapat menikmati bonus demografi pada tahun 2020 – 2030 dan kehilangan Generasi Emas pada tahun 2045.”

Data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN mengungkapkan lebih 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun. Jumlah itu mencapai 20 juta anak. Jumlah fantastis itu merunut pada data jumlah anak Indonesia usia 0-14 tahun pada sensus 2010, sudah melebihi 67 juta orang.

“Hasil Survei Indonesia Kesehatan Nasional (SIRKESNAS) 2016 menunjukan Prevalensi perokok usia anak (di bawah usia 18 th) meningkat dr 7,2% pd th 2013 menjadi 8,8% pd th 2016. Dari jumlah anak 87 juta, sekitar 43 juta (=49%) terpapar asap rokok atau perokok pasif; dan dari 43 juta sekitar 11,4 juta (=27%) adalah anak usia di bawah 5 tahun,” tegasnya.

Sementara itu, Data Kementerian Kesehatan tahun 2016 menunjukan 97 juta orang Indonesia terpapar asap rokok atau perokok pasif dengan 43 juta diantaranya merupakan anak-anak yang 11,4 juta diantaranya baru berusia 0-4 tahun.

Fuad Baradja dari Komnas pengendalian tembakau menambahkan bahwa, perilaku merokok pada anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan rumah. Anak mulai mengenal rokok dari lingkungan terdekatnya. Awalnya penasaran, kemudian mencobanya sampai akhirnya ketagihan. Anak menjadi kelompok yang rentan terdampak berbagai hal negatif yang ditimbulkan dari rokok. Perlu upaya bersama - sama untuk melindungi generasi Indonesia dari bahaya rokok."

Peserta yang terlibat terdiri dari anggota Forum Anak Nasional, Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Anak – anak yang terlibat sebagai peserta juga menyerukan pesan – pesan dan himbauan kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang bahaya rokok. Dalam acara ini digelar juga deklarasi untuk lindungi anak – anak Indonesia dari bahaya rokok.

"Gerakan Bersama ini ditujukan untuk "Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan" sbg salah satu upaya utk mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) pd th 2030. Hingga Oktober 2017 terdapat 346 kabupaten/kota yg telah/sdg menginisiasi dan berkomitmen utk menjadikan wilayahnya menjadi KLA. Dan salah satu dari 24 Indikator KLA adalah terkait rokok,” tutup Lenny N Rossalin. (ANP)