Salah Satu Pura Tertua di Asia Tenggara Ada Di Lumajang
Monday, 13 November 2017
Salah Satu Pura Tertua di Asia Tenggara Ada Di Lumajang

LUMAJANG – Masyarakat lebih mengenal kehidupan dari masyarakat agama Hindu, Indonesia hanya familiar dilihat dan dirasakan di Pulau Dewata Bali. Namun jangan salah, kabupaten Lumajang yang masyarakatnya didominasi oleh suku etnis Jawa juga lekat dengan budaya agama Hindu.

Salah satu contohnya bisa dilihat dengan salah satu pura yang tertua di Asia Tenggara. Ternyata satu dari tiga pura tertua di benua Asia Tenggara ternyata ada di Lumajang, yakni pura Mandhara Giri Semeru Agung yang terletak di kaki gunung Semeru, tepatnya di jalan Serma Dohir, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Berdasarkan rilis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam kunjungan ke Malang, dalam Tantu Panggelaran dikisahkan lokasi kaki gunung Semeru ini diumpamakan dengan mite alias kisah yang dianggap suci pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa, yang di mana kisah ini berkaitan dengan sejaran nama Gunung Semeru itu sendiri sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa.

Soal akomodasi, akses menuju pura ini transportasi menuju ke lokasi sudah cukup baik. Bahkan mampu mengakomodir rombongan wisatawan yang memakai puluhan kendaraan bis dari Pulau Bali, yang datang ke pura untuk melakukan peribadatan.

Pura ini selalu ramai oleh pengunjung selain saat setiap hari besar agama Hindi, juga ketika akhir pekan maupun pada hari libur yang ingin melakukan wisata religi. Seperti yang dituturkan Astono, selaku staf humas dari pura Mandhara Giri Semeru Agung.

"Ohya, wisatawan religi banyak yang datang dari mana-mana. Dari pulau Bali, terus Jogja, juga Malang ya, mereka itu khususnya umat Hindu namun biasanya di hari libur pun banyak juga yang datang dari kalangan orang umum," ungkap Astono kala ditemui Okezone, kemarin di pura Mandhara Giri Semeru.

Selain wisatawan domestik, Astono menyebutkan bahwa pura ini juga menjadi salah satu destinasi wisata dari wisatawan mancanegara.

"Wisatawan luar negeri juga banyak, ada yang dari Australia, Swiss, Jerman, bahkan China juga banyak. Mereka biasanya datang dari Bali lalu rutenya sebelum naik ke puncak B29, datang ke pura ini dulu. Nah nanti pas turunnya baru lanjut lihat danau Ranu Pane, biasanya sih jalur destinasinya begitu," tandasnya sembari tersenyum.

Astono menambahkan, walau selama ini pemerintah daerah sudah menunjukkan dukungan yang cukup baik terhadap kemajuan pura. Namun, ia sebagai pihak pura mengharapkan bahwasanya pemda bisa memberikan dukungan yang lebih lagi untuk pengembangan sarana dan pra-sarana di pura.

"Dukungan pemda selama ini bagus kok, tiap upacara besar itu bapak Bupati dan pejabat lainnya kerap hadir. Tapi harapan kami, dari segi finansial agar terus bisa berkesinambungan karena pura ini kan juga bagian dari ikon khas Lumajang," tutupnya.

Nah, jika Anda berkesempatan berkunjung ke daerah Lumajang. Rasanya tidak rugi jika menyempatkan waktu untuk singgah sejenak di pura yang menjadi tempat beribadah umat agama Hindu dari dalam dan luar kota, yang juga merupakan jadi salah satu destinasi wisata khas Lumajang satu ini. (ANP)