Kesadaran Wisatawan Indonesia untuk Berasuransi Masih Rendah
Wednesday, 08 November 2017
Kesadaran Wisatawan Indonesia untuk Berasuransi Masih Rendah

JAKARTA -- Jumlah perjalanan wisatawan Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat, baik untuk wilayah domestik maupun ke luar negeri. Hanya saja di tengah meningkatnya angka tersebut, kesadaran wisatawan Indonesia untuk mengasuransikan perjalananya masih rendah. 

Padahal asuransi perjalanan merupakan bagian penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam satu perjalanan wisata. Asuransi perjalanan sangat penting untuk menekan risiko di dalam perjalanan. Seperti sakit, kecelakaan, hingga kematian.

Hal tersebut dikatakan Country CEO AXA Indonesia yang juga President Director AXA General Indonesia, Paul Henri Rastoul saat menjadi salah satu pembicara di ajang Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar), Rabu (1/11) lalu.

"Indonesia baru mencakup 5 persen kesadaran masyarakatnya dalam mengambil asuransi perjalanan. Masih dibawah Singapura 75 persen dan Malaysia 20 persen," ujar Paul Henri. 

Paul menyebutkan, berwisata atau travelling bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai kebutuhan. 

Data menyebutkan di tahun 2016 jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri mencapai 7 juta orang. Meningkat 6 persen dibanding tahun 2015. 

Sementara hingga pertengahan tahun 2017, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian di lingkup domestik telah mencapai 200 juta orang. Target pemerintah sendiri, hingga akhir tahun 2017 mencapai 265 juta orang. 

Belum lagi tingkat perjalanan umrah yang selalu meningkat tiap tahunnya. Data dari Kementerian Agama menyebutkan, tahun 2015 jumlah jamaah umrah Indonesia mencapai 717 ribu orang. Dan meningkat 14 persen di tahun 2016 menjadi 818 ribu jamaah umrah. 

"Angka tersebut tentunya menjadi peluang, hanya saja PR-nya adalah edukasi market. Selama ini masyarakat Indonesia membeli asuransi perjalanan hanya untuk melengkapi persyaratan visa," kata Paul. 

Lalu bagaimana cara untuk dapat menumbuhkan awareness masyarakat terhadap asuransi perjalanan? 

Paul mengatakan, salah satunya adalah kerja sama yang simultan antara regulator, industri dan biro perjalanan untuk mengadopsi satu program untuk dilakukan secara bersama yang dapat meningkatkan kesadaran tentang asuransi terhadap masyarakat. 

Selain itu edukasi terhadap pasar bahwa asuransi perjalanan tidak hanya meng-cover kesehatan dan kejadian personal selama perjalanan. 
"Tapi juga pengalaman yang tidak menyenangkan yang mungkin didapat konsumen saat bepergian," ujarnya. 

Tidak ketinggalan adalah pemanfaatan teknologi di tengah berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bahwa penerapan teknologi terbaru yang dibangun para "pemain" akan dapat meningkatkan kepuasan konsumen di masa depan dan akan menumbuhkan peluang pengembangan pasar asuransi perjalanan. 

AXA sendiri sebagi ahli di bidang asuransi telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengedepankan visi dan inovasi agar dapat menjadi yang terdepan di pasar (market). AXA telah meluncurkan Robotic Process Automation yang memungkinkan travellers mendapat polis asuransi mereka secara instan melalui digital atau aplikasi mobile.  

Selain itu juga adalah meluncurkan AXA Smart Claim yang menyempurnakan proses klaim travelers dan mempercepat service level agreement. 

Dalam waktu dekat AXA juga akan meluncurkan perlindungan perjalanan domestik dalam beberapa waktu ke depan yang akan meng-cover perjalanan udara dan darat. 

"Serta yang tidak kalah penting, AXA terus membangun awareness dan kampanye edukasi tentang pentingnya pencegahan dini dalam bepergian," jelas Paul. (ANP)